Apa itu gyaru? Subkultur Jepang yang jadi tema ultah Hanum Mega di GBK

Beauty influencer Hanum Mega merayakan ulang tahun bertema gyaru di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Minggu (20/9/2026).

Para tamu tampil dengan gaya Y2K gyaru, lengkap dengan motif leopard, aksen bulu, dan leg warmers.

Hanum sendiri memakai riasan mata dramatis dengan eyeliner cat-eye, bulu mata palsu tebal, dan softlens berwarna terang.

Dekorasi panggungnya didominasi warna pink dan ungu dengan properti retro, mulai dari telepon jadul sampai ponsel flip.

Lalu, apa sebenarnya gyaru?

Apa itu gyaru?

Dikutip dari

Ohayo Jepang

, Gyaru adalah serapan dari kata bahasa Inggris “gal” atau “girl”.

Subkultur asal Jepang ini ditandai dengan rambut berwarna cerah, riasan tebal, pakaian berani, dan sikap percaya diri.

Melansir

Tokyo Weekender

, asal-usul pastinya sulit dipastikan. Namun, gyaru mulai benar-benar dikenal pada 1990-an, ketika kaum muda perempuan Jepang memakainya sebagai simbol kebebasan berekspresi di tengah norma sosial yang cenderung konservatif.

Awal mula: dari rok sekolah

Gelombang pertama gyaru dikenal sebagai kogyaru. Mayoritas adalah siswi sekolah swasta dari kalangan atas yang sengaja memendekkan rok seragam hingga sangat mini.

Mereka memakainya tidak hanya di sekolah, tetapi juga di luar jam pelajaran sebagai pernyataan mode. Rok itu dipadukan dengan sepatu pantofel sekolah dan kaus kaki longgar berukuran besar.


Tokyo Weekender

menyebut istilah kogyaru diduga awalnya dipakai para penjaga pintu klub malam untuk menyebut gadis di bawah umur yang mencoba masuk.

Pada pertengahan 1990-an, gyaru merambah kalangan yang lebih luas, termasuk dari lapisan bawah. Seragamnya tak lagi terpaku pada rok sekolah.

Para gyaru mulai memakai baju yang memperlihatkan perut, banyak di antaranya dari butik di pusat perbelanjaan Shibuya 109.

Merek seperti Alba Rosa dengan pakaian bergaya surf dan sepatu berkilau dari Esperanza jadi favorit. Toko-toko itu bahkan mempekerjakan gyaru sebagai staf untuk memperlihatkan tren terbaru langsung kepada pelanggan.

Mengutip

BBC

, gyaru lahir di tengah masa booming ekonomi Jepang. Mereka mencerminkan remaja perkotaan berpendapatan lebih yang haus akan perbedaan.

Melawan standar kecantikan tradisional

Kecantikan tradisional Jepang umumnya mengedepankan kulit cerah, riasan natural, dan penampilan feminin dengan rambut gelap yang rapi.

Gyaru sengaja berlawanan dengan itu. Mereka memilih kulit lebih gelap lewat tanning, rambut pirang atau berwarna cerah, serta riasan mata dramatis dengan eyeliner tebal, bulu mata palsu berlebihan, dan lensa kontak berwarna.


Tokyo Weekender

menyebut subkultur ini sebagai bentuk pemberontakan perempuan terhadap ideal kecantikan yang serba pucat dan kalem.

Gaya gyaru berevolusi lewat berbagai fase, mulai dari kaus kaki besar dan sepatu wedges setinggi lutut, rambut berwarna perak, sampai kulit yang digelapkan. Puncak keberaniannya terlihat pada kelompok Yamamba.

Mereka memakai lingkaran eyeshadow putih di sekitar mata sehingga menciptakan efek “panda terbalik”.

Popularitas lensa kontak berwarna non-resep, salah satu ciri khas gyaru, sempat menjadi isu nasional di Jepang pada 2008. Ratusan laporan kerusakan mata mendorong pemerintah mengeluarkan regulasi baru.

Egg, “kitab suci” gyaru

Pada akhir 1990-an, majalah Egg dianggap sebagai “kitab suci” budaya gyaru. Isinya penuh foto puri-kura (print club atau foto box) yang bisa disesuaikan dan testimoni langsung dari para gyaru. Gyaru juga punya tarian sendiri bernama para-para, campuran voguing dan pemandu sorak yang diiringi musik Eurobeat, pop, dan hi-NRG.

Penyanyi Namie Amuro disebut jadi ikon gerakan ini, sampai Egg pernah mendedikasikan satu edisi khusus tentang tampilannya.

Menurut

PR Times,

Egg sempat hiatus pada 2014, kembali dalam format web pada 2018, dan menerbitkan edisi cetak lagi pada 2019. Kini Egg menjadi media terkemuka yang menyebarkan tren model gyaru dan Generasi Z, terutama lewat TikTok dan YouTube.

Kebangkitan gyaru

Tokyo Weekender melaporkan pada 2024 bahwa gyaru kembali populer. Kuku panjang berkilau, kaus kaki besar, dan riasan tebal kembali terlihat. Bahkan ada sekolah gyaru di Tokyo Plaza, Harajuku, bernama Shibuya Girls International School.

Sekolah yang dijalankan Hitomi Akaogi itu mengajarkan murid-muridnya bertahan sebagai perempuan mandiri di industri hiburan lewat kelas bahasa Inggris, pembuatan video, dan pemasaran media sosial.

Gaya gyaru versi sekarang disebut lebih kalem dibanding versi aslinya, sehingga lebih mudah dicoba orang kebanyakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *