Disdik DKI pastikan revitalisasi SDN Cipete Utara 01 rampung November 2026


Ringkasan Berita:
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana menargetkan revitalisasi gabungan SDN Cipete Utara 01 dan 02, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, rampung pada 15 November 2026.

  • Proyek tersebut memasuki tahap akhir pengerjaan dan merupakan bagian dari program perbaikan 19 sekolah menggunakan APBD 2025.
  • Pembangunan yang sebelumnya ditargetkan selesai September 2026 belum tuntas, sehingga siswa masih menumpang belajar di sekolah lain dengan jadwal bergantian.

  • , JAKARTA

    – Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana menargetkan revitalisasi SDN Cipete Utara 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, rampung pada November 2026.

    Nahdiana menuturkan, sekolah gabungan SDN Cipete Utara 01 dan 02 tersebut kini memasuki tahap akhir pengerjaan.

    “Memang waktunya itu sampai dengan nanti 15 November (2026). Jadi ada 19, tiga di antaranya dalam progres. Ada yang dua selesai di Oktober, lalu yang Cipete Utara itu pada bulan November,” ujarnya di SDN Cilandak Barat 08, Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026).

    Ia mengatakan, revitalisasi kedua sekolah itu merupakan bagian dari program perbaikan 19 sekolah yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025.

    Meski begitu, ia tidak merinci kendala yang menyebabkan pengerjaan belum rampung.

    “Ini masih dalam masa

    finishing (tahap akhir pengerjaan)

    . Jadi tidak, bukan terlambat, bukan, memang masa

    finishing

    ,” ujarnya.

    Selain itu, Dinas Pendidikan DKI Jakarta mencatat lebih dari 200 sekolah membutuhkan perbaikan.

    Sekolah-sekolah ini akan dipetakan berdasarkan tingkat urgensi, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi konstruksi bangunan.

    “Jadi apakah konstruksinya, gitu ya, secara konstruksi begitu. Ya makanya kami dibantu oleh tim supaya nanti melihat sekolah itu berdasarkan memang yang sesungguhnya,” ucapnya.

    Diberitakan sebelumnya, pembangunan gedung baru SDN Cipete Utara 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ditargetkan rampung pada September 2026.

    Pembangunan tersebut mendapat sorotan lantaran dianggap molor.

    “Rencana September selesai,” ujar Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan, Sarwoko, saat dikonfirmasi, Selasa (28/7/2026).

    Selama proses pembangunan, ia menuturkan kegiatan belajar mengajar (KBM) para siswa tetap berlangsung selama proses pembangunan.

    Namun, para siswa menjalani pembelajaran di SDN Cipete Utara 09 yang jaraknya berkisar 1,6 km dari SDN Cipete Utara 01.

    “Ya, benar, KBM masih berlangsung,” kata Sarwoko.


    Sementara itu, Kepala Unit Pengelola Prasarana dan Sarana Pendidikan (UPPSP) Dinas Pendidikan DKI Jakarta Ephraem Widjojo Sianturi pun tak menjawab secara gamblang terkait alasan pembangunan belum rampung hingga kini.

    “Terkait pelaksanaan pembangunan masih tetap berlangsung,” ujarnya, kepada Warta Kota, Jumat (24/7/2026).

    Ia menegaskan, pihaknya mengupayakan penyelesaian pembangunan sekolah itu secepat mungkin.

    Sehingga KBM dapat kembali dilaksanakan secara normal di SDN Cipete Utara 01 itu.

    “Kami upayakan secepatnya dan saat ini kebutuhan KBM (kegiatan belajar mengajar) tetap berjalan dengan baik,” tuturnya.

    Diketahui, pembangunan gedung baru SDN Cipete Utara 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang semula ditargetkan selesai dalam waktu enam bulan, hingga kini belum rampung meski proyek telah berjalan hampir setahun.

    Keterlambatan tersebut membuat siswa masih harus menumpang belajar di sekolah lain.


    Proyek Molor

    Iin Solihin (48), warga sekitar mengatakan, target penyelesaian enam bulan itu diketahuinya dari para pekerja dan pemborong yang terlibat dalam pembangunan sekolah tersebut.

    “Katanya ini proyek targetnya cuma 6 bulan. 6 bulan harus jadi katanya ya. Saya juga dengar dari orang-orang dalam ya, model pemborong saya kenal sih. 6 bulan harus jadi itu awalnya,” kata Iin, di lokasi, Jumat (24/7/2026).

    Target itu bertujuan supaya bisa dipakai kegiatan belajar mengajar untuk tahun ajaran baru 2026/2027 ini. Namun, target tersebut meleset.

    Menurut Iin, pembangunan sempat terhenti selama sekitar empat bulan karena banyak pekerja menghentikan pekerjaan setelah upah mereka belum dibayarkan.

    “Yang saya dengar, jadi yang kerja sudah pada pulang, pada berhenti dulu karena apa ya? Banyak yang kerja yang enggak dibayar, ada yang belum dibayar,” tuturnya.

    “Kalau dibayar sih pasti dibayar kan katanya. Ada yang 2 bulan belum dibayar, 3 bulan. Jadi ditunda kerjanya gitu. Jadi yang dikerjain itu yang seadanya aja gitu jadinya,” lanjut dia.

    Ia mengaku menyaksikan langsung aktivitas proyek yang perlahan berhenti.

    Dari semula melibatkan ratusan pekerja, jumlah tenaga kerja terus berkurang hingga lokasi proyek nyaris tanpa aktivitas.

    “Waktu awal ramai, sampai malam juga kerja. Lama-lama berkurang, terus sekitar empat bulan sepi. Paling cuma ada pekerjaan kecil seperti gali septic tank,” ujarnya.

    Akibat pembangunan yang tak kunjung selesai, proses belajar mengajar harus dipindahkan ke SD BaPem yang berjarak 1,6 km dari SDN Cipete Utara 01.

    Menurut Iin, kondisi tersebut membuat kegiatan belajar menjadi tidak maksimal karena siswa harus berbagi ruang dan jam belajar.

    “Harusnya tahun ajaran baru ini gedungnya sudah dipakai. Tapi sekarang anak-anak masih numpang sekolah. Ada yang masuk jam satu siang, bahkan kadang baru satu mata pelajaran sudah pulang karena ruangnya terbatas,” katanya.

    Dalam beberapa hari terakhir, Iin mulai melihat tanda-tanda proyek pembangunan SDN Cipete Utara 01 kembali dilanjutkan.

    Ia mengaku melihat sejumlah kendaraan proyek hingga pihak terkait mendatangi lokasi.

    “Tadi pagi sudah ramai lagi. Ada orang proyek, guru, dan orang dinas. Kayaknya lagi rapat dan mau mulai dikerjakan lagi,” ujarnya.

    Meski demikian, ia berharap kelanjutan proyek benar-benar mampu mengejar penyelesaian pembangunan.

    Sehingga para siswa tidak lagi harus menjalani kegiatan belajar di sekolah lain.

    “Harapan saya ya semoga cepat selesai. Kasihan anak-anak yang masih harus numpang sekolah,” kata Iin.

    Adapun tahun ajaran baru 2026/2027 telah dimulai.

    Namun, siswa SDN Cipete Utara 01, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum dapat belajar di gedung sekolah mereka.

    Hal tersebut lantaran pembangunan yang belum rampung atau diduga mangkrak.

    Akibatnya, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung di sekolah lain dengan sistem bergantian.


    Kondisi Terkini

    Pantauan Warta Kota di lokasi, Jumat (24/7/2026) siang, sekolah itu berada di Jalan RS Fatmawati Raya, Kebayoran Baru.

    Dari luar, tampak bangunan sekolah tersebut terdiri dari empat lantai yang bersebelahan dengan RSUD Kebayoran Baru.

    Menariknya, SDN Cipete Utara 01 hanya berjarak 3,8 Km dari Kantor Wali Kota Jakarta Selatan.

    tampak di halaman sekolah ada satu alat berat serta truk yang mengangkut material bangunan.

    Beberapa pekerja terlihat melakukan pekerjaan pada bagian tembok halaman sekolah.

    Ada pula pekerja naik turun tangga guna memindahkan meja dan bangku sekolah ke lantai atas.

    Puluhan meja dan bangku sekolah bahkan dibiarkan tergeletak berantakan di lantai satu.

    Iin Solihin (48), warga sekitar mengaku proyek pembangunan gedung sekolah itu telah berlangsung hampir satu tahun.

    Meski awalnya ditargetkan selesai sebelum tahun ajaran baru dimulai, hingga kini bangunan belum bisa difungsikan.

    “Kalau setahu saya ya, kalau ini (proyek pembangunan) sekolah sudah ada setahunan kuranglah kurang lebih ya,” kata Iin, di lokasi, Jumat (24/7/2026).

    “Katanya targetnya sudah harus dipakai tahun ini, pas masuk murid baru,” sambung pria yang juga sebagai juru parkir ini.

    Menurut Iin, keterlambatan pembangunan berdampak langsung terhadap proses belajar siswa.

    Keponakannya yang bersekolah di SDN Cipete Utara 01 kini harus mengikuti pembelajaran di sekolah lain.

    “Sekarang numpang di (SD) BaPem. Masuknya siang, jam satu sampai jam empat. Kadang malah jam dua sudah pulang karena cuma dapat satu mata pelajaran. Sekolahnya penuh karena dipakai bergantian,” ujarnya.

    Ia menilai sistem belajar tersebut membuat kegiatan belajar mengajar tidak berlangsung optimal.

    “Enggak semua pelajaran bisa diberikan. Kadang cuma satu atau beberapa mata pelajaran saja karena ruang kelas terbatas,” katanya.

    “Makanya bangku-bangku sekolah juga sudah dibawa ke sini,” lanjut pria yang mengenakan topi hitam. (m31)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *