Cerita Sedih Lainnya


APAKAH

ada tempat di dunia yang memperlakukan, dan diperlakukan, sepak bola melebihi negeri-negeri di Amerika Latin? Jika pertanyaan ini dilontar kepada Orhan Pamuk, maka tanpa sempat berkedip, dia akan memberi jawaban pasti: Turki! Di sini, dalam ruang lingkup sepak bola, batas antara waras dan gila melebur sepenuhnya.

Turki menjadi persimpangan bagi unsur-unsur yang nyaris terlalu jauh berbeda: Asia dan Eropa, timur dan barat, tradisional dan modern.

Pamuk, sang novel besar penerima novel sastra, dengan ciamik menggambarkan perihal Turki, wa bil khusus pusat dari segenap peradabannya, Istanbul, dalam memoar ‘

Memories and the City

‘. Nostalgia, melankolis, dari keruntuhan Kekaisaran Ottoman sampai sepak bola. Istanbul adalah sarang bagi tiga raksasa sekaligus, Galatasaray, Fenerbahce, dan Besiktas. Pamuk suporter garis keras Fenerbahce. Seperti ayahnya. Mereka mengambil jalan berbeda dari para paman yang justru mendukung Galatasaray dan Besiktas. Terutama sekali Galatasaray. Maka tiap kali Fenerbahce berhadapan dengan Galatasaray, kata Pamuk, rumah menjelma neraka, dan mereka pergi ke stadion seperti bebuyutan yang betul-betul saling membenci.

Ihwal permusuhan ini, sebagaimana umumnya permusuhan di dunia, berangkat dari konflik berlatar sosial dan politik. Galatasaray didirikan tahun 1905 oleh orang-orang kaya, kalangan menengah atas. Para aristokrat. Fenerbahce pun pada dasarnya tidak “terlalu rakyat”. Berbeda dari, katakanlah AC Milan dan Inter Milan, atau Rangers dan Celtic di Glasgow, pada dasarnya Fenerbahce mendekati “borjuis” juga. Mereka datang dari kalangan pekerja, tapi gagasan dibentuk oleh kelompok-kelompok yang elitis. Nama Fenerbahce sendiri merupakan gabungan dua wilayah, Fener, daerah pinggiran dan lepas pantai (pulau dengan mercu suara dan pulau lain di sekitarnya), serta Bahce, kawasan perkebunan.

Dari sisi politik, Fenerbahce yang lebih muda dua tahun dari Galatasaray, sering dihubung-hubungkan dengan Mustafa Kemal Attaturk, presiden pertama Republik Turki. Presiden saat ini, Recep Tayyip Erdogan, juga mendaku suporter Fenerbahce.

Dalam wawancara dengan media Jerman, Der Spiegel, 4 Juni 2008, Orhan Pamuk menggarisbawahi satu kata lain untuk sepak bola Turki, nasionalisme. Bilang Pamuk, nasionalisme seringkali datang dari catastropic. Datang dari bencana, entah bencana alam atau kehancuran akibat perang, atau kisah sedih dari arena olahraga, termasuk sepak bola. Turki pernah kalah 0-8 dari Inggris pada 14 November 1984 di babak kualifikasi Piala Dunia, dan Pamuk mencatat peristiwa ini dalam novelnya,

‘The Black Book’.

“Kisah sedih ini, bagi kami, tidak ubahnya bencana. Menyakitkan di satu sisi, memalukan di sisi yang lain. Inggris betul-betul mencoreng wajah kami. Dari sini ekspresi nasionalisme mencuat, yang sayangnya tidak saja membentuk fanatisme agresif, tapi juga inferioritas yang ditutupi dengan tindakan-tindakan brutal,” katanya.

Pamuk sepertinya benar. Nasionalisme Turki barangkali menguat. Namun sepak bola mereka tidak berubah terlalu jauh. Klub-klub Turki jarang melangkah ke fase-fase akhir kompetisi Eropa. Pencapaian tertinggi diraih Galatasaray di Liga Champions musim 1988-1989 (kala itu masih bernama Piala Champions). Kala itu Galatasaray masuk di jajaran empat besar.

Pun di level negara. Setelah kekalahan memalukan dari Inggris dan tersingkir dari persaingan menuju Meksiko 1986, Tim Nasional Turki baru berhasil lolos di Korea-Jepang 2002, untuk kemudian absen lagi di lima edisi beruntun.

Mereka kembali di edisi 2026. Namun alih-alih mengulang pencapaian semi-finalis 2002, yang mengemuka justru kabar sedih yang lain. Di Levi’s Stadium, Santa Clara, Sabtu pagi, 20 Juni, Turki menjadi kontestan yang harus pulang pagi-pagi sekali. Bergabung dengan Haiti. Hasil yang sesungguhnya tidak banyak diprediksi. Betapa pun Turki datang ke Piala Dunia membawa pemain-pemain yang tampil hebat di klub masing-masing dalam setidaknya dua musim terakhir. Ada Ferdi Kadioglu di Brighton, Kenan Yildiz di Juventus, Hakan Calhanoglu di Inter Milan, dan –sudah barang tentu– Arda Guler di Real Madrid.

Namun kebintangan mereka, ternyata, tidak berarti banyak. Setelah dari Australia di matchday pertama, mereka terjerembab lagi di hadapan Paraguay.

“Kami menangis di ruang ganti,” kata Arda Guler. “Ini terasa sangat memukul. Kami tidak bermain buruk sama sekali. Kami menekan, membuat peluang, tapi gol itu tidak mau datang.”

Guler memang tidak asal sebut. Kalimatnya bukan sebangsa pembelaan diri yang panik. Turki betul-betul dominan, menguasai lapangan, menguasai tempo. Mereka menguasai bola sampai 78 persen. Pun saat melawan Australia. Lebih dari 10 tembakan ke gawang, tak satu pun berbuah gol. Apakah ini yang disebut ketidakberuntungan?

Kapten Hakan Calhanoglu tercenung lama di lapangan setelah wasit meniup pluit panjang. Dia tahu, kekalahan ini, ketersingkiran ini, akan meluapkan gelombang kesedihan di seantero negeri. Matanya berkaca-kaca. Dalam wawancara, nada suaranya bergetar.

“Ini nasib buruk. Sangat mengecewakan. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Saya minta maaf. Kami semua minta maaf.”

(t agus khaidir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *