7 cara ampuh untuk hidup dalam iman di tengah masa-masa sulit menurut psikologi, apa sajakah itu?

Ada masa dalam hidup ketika segala sesuatu terasa berjalan tidak sesuai harapan. Masalah datang bertubi-tubi, doa seolah belum mendapatkan jawaban, masa depan terasa tidak pasti, dan hati mulai dipenuhi pertanyaan: “Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi?”

Pada saat seperti itu, mempertahankan iman bukan selalu perkara mudah.

Banyak orang berpikir bahwa hidup dalam iman berarti tidak boleh takut, tidak boleh sedih, tidak boleh kecewa, dan harus selalu terlihat kuat. Padahal, dari sudut pandang psikologi, manusia memang memiliki emosi yang beragam. Ketakutan, kesedihan, kemarahan, kecemasan, dan kebingungan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Iman bukan berarti kita tidak pernah mengalami badai. Iman adalah bagaimana kita tetap memiliki pegangan ketika badai itu datang.

Menariknya, sejumlah prinsip dalam psikologi modern memiliki titik temu dengan kehidupan iman. Kemampuan menerima kenyataan, membangun harapan, menjaga hubungan sosial, mengelola pikiran, menemukan makna, serta membangun kebiasaan yang sehat dapat membantu seseorang menghadapi masa sulit dengan lebih kuat.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat 7 cara yang dapat membantu kita hidup dalam iman di tengah masa-masa sulit menurut perspektif psikologi.

1. Akui Perasaan, Jangan Berpura-Pura Selalu Kuat

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika menghadapi masalah adalah memaksa diri untuk selalu terlihat baik-baik saja.

Ada orang yang berkata:

“Saya harus kuat.”

“Saya tidak boleh takut karena saya punya iman.”

“Kalau saya percaya Tuhan, berarti saya tidak boleh menangis.”

Padahal, memiliki iman tidak membuat seseorang berhenti menjadi manusia.

Kita tetap dapat merasa sedih. Kita tetap dapat takut. Kita dapat kecewa. Bahkan kita dapat mengalami masa ketika kita tidak memahami apa yang sedang terjadi.

Dalam psikologi, kemampuan mengenali dan menerima emosi merupakan bagian penting dari kesehatan psikologis. Menekan atau menyangkal emosi secara terus-menerus justru dapat membuat beban psikologis semakin berat.

Karena itu, ketika sedang mengalami masa sulit, tidak perlu merasa bersalah hanya karena sedang merasa lemah.

Kita dapat berkata kepada diri sendiri:

“Saya sedang takut, dan itu manusiawi.”

“Saya sedang sedih, dan saya boleh merasakan kesedihan ini.”

“Saya belum memahami apa yang sedang terjadi, tetapi saya tidak harus memahami semuanya hari ini.”

Ini bukan tanda kurang iman.

Justru, kejujuran terhadap keadaan hati dapat menjadi awal dari pemulihan.

Dalam kehidupan rohani, kita juga dapat membawa emosi tersebut ke dalam doa. Tidak perlu selalu menggunakan kata-kata yang indah. Terkadang doa yang paling jujur justru sangat sederhana:

“Tuhan, saya lelah.”

“Saya takut.”

“Saya tidak mengerti.”

“Tolong saya melewati hari ini.”

Iman tidak selalu berbentuk keyakinan yang penuh dengan jawaban. Kadang-kadang iman hanya berarti tetap datang kepada Tuhan meskipun kita belum memiliki jawaban.

Belajar membedakan antara “merasa takut” dan “kehilangan iman”

Kita perlu membedakan dua hal ini.

Merasa takut bukan berarti tidak beriman.

Seseorang dapat memiliki iman sekaligus merasa cemas tentang masa depan.

Seseorang dapat percaya kepada Tuhan sekaligus menangis karena kehilangan.

Seseorang dapat berdoa sekaligus merasa bingung.

Yang penting bukan apakah kita memiliki emosi negatif, tetapi bagaimana kita merespons emosi tersebut.

Jangan memusuhi perasaan. Kenali, terima, lalu bawa perasaan itu kepada Tuhan.

2. Fokus pada Apa yang Bisa Dikendalikan

Salah satu sumber stres terbesar dalam masa sulit adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Kita sering memikirkan:

“Bagaimana kalau semuanya gagal?”

“Bagaimana kalau keadaan menjadi lebih buruk?”

“Bagaimana kalau orang tersebut meninggalkan saya?”

“Bagaimana kalau masa depan saya tidak sesuai rencana?”

Masalahnya, sebagian besar pertanyaan tersebut berkaitan dengan masa depan—sesuatu yang belum terjadi.

Psikologi mengajarkan pentingnya membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang tidak berada dalam kendali kita.

Kita tidak selalu dapat mengendalikan apa yang terjadi.

Tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan keputusan orang lain, tetapi kita dapat mengendalikan bagaimana kita memperlakukan mereka.

Kita mungkin tidak dapat mengendalikan keadaan ekonomi, tetapi kita dapat mengatur pengeluaran dan mencari peluang yang tersedia.

Kita mungkin tidak dapat mengetahui masa depan, tetapi kita dapat menentukan apa yang akan kita lakukan hari ini.

Kita mungkin tidak dapat menghilangkan masalah, tetapi kita dapat memilih untuk tidak menyerah.

Prinsip sederhana: fokus pada hari ini

Ketika masalah terlalu besar, jangan selalu mencoba menyelesaikan seluruh hidup dalam satu hari.

Tanyakan:

“Apa satu hal yang dapat saya lakukan hari ini?”

Mungkin jawabannya sederhana:

bangun dari tempat tidur;

berdoa;

bekerja;

menyelesaikan satu tugas;

berbicara dengan orang yang dipercaya;

berolahraga;

makan dengan baik;

tidur lebih teratur;

meminta bantuan;

atau sekadar menjalani hari tanpa menyerah.

Langkah kecil tetap merupakan langkah.

Iman juga sering kali dijalani melalui ketaatan dalam hal-hal kecil.

Kita tidak harus mengetahui seluruh perjalanan untuk mengambil langkah berikutnya.

Kadang-kadang Tuhan tidak memberikan seluruh peta perjalanan. Kita hanya diberi cukup terang untuk mengambil langkah berikutnya.

3. Bangun Kebiasaan Spiritual, Bukan Hanya Menunggu Motivasi

Ketika kehidupan berjalan sulit, kita sering menunggu perasaan kita membaik sebelum kembali berdoa, membaca kitab suci, beribadah, atau melakukan aktivitas rohani.

Masalahnya, motivasi tidak selalu datang terlebih dahulu.

Justru kebiasaan dapat membantu membentuk kondisi psikologis kita.

Dalam psikologi perilaku, kebiasaan dibangun melalui tindakan yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, kehidupan iman tidak sebaiknya hanya bergantung pada perasaan.

Ada hari ketika kita merasa sangat dekat dengan Tuhan.

Ada juga hari ketika berdoa terasa berat.

Ada hari ketika membaca kitab suci terasa menguatkan.

Ada hari ketika kita membaca tetapi pikiran terasa kosong.

Itu normal.

Jangan membangun kehidupan iman hanya berdasarkan perasaan.

Buat ritme spiritual yang sederhana

Misalnya:

Pagi:

5–10 menit berdoa dan merenungkan satu bagian kitab suci.

Siang:

Berhenti sejenak untuk menarik napas dan mengingat bahwa kita tidak menjalani hari sendirian.

Malam:

Menuliskan tiga hal yang dapat disyukuri dan satu hal yang ingin diserahkan kepada Tuhan.

Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana.

Namun sesuatu yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih kuat daripada sesuatu yang dilakukan secara intens tetapi hanya sesekali.

Jangan mengejar kesempurnaan

Jika suatu hari kita gagal melakukan rutinitas tersebut, jangan berpikir:

“Saya sudah gagal, berarti percuma.”

Mulai kembali.

Kehidupan iman bukan perlombaan untuk menjadi sempurna.

Yang penting adalah terus kembali.

Jatuh bukan berarti perjalanan selesai.

4. Latih Pikiran untuk Tidak Percaya pada Semua Hal yang Dikatakan Kecemasan

Ketika seseorang berada dalam tekanan, pikirannya dapat menjadi sangat negatif.

Misalnya:

“Semuanya akan hancur.”

“Saya tidak akan pernah berhasil.”

“Tidak ada jalan keluar.”

“Tidak ada seorang pun yang peduli.”

“Masa depan saya pasti buruk.”

Masalahnya, pikiran yang muncul dalam kepala tidak selalu merupakan fakta.

Psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia dapat mengalami pola pikir yang tidak akurat ketika berada di bawah tekanan, misalnya berpikir secara ekstrem, menggeneralisasi satu kejadian, atau membayangkan skenario terburuk sebagai sesuatu yang pasti terjadi.

Karena itu, kita perlu belajar bertanya:

“Apakah ini fakta, atau ketakutan saya?”

Misalnya:

“Saya gagal dalam satu hal.”

Bisa berubah menjadi:

“Saya adalah orang gagal.”

Padahal kedua kalimat tersebut berbeda.

Yang pertama adalah sebuah peristiwa.

Yang kedua adalah label terhadap identitas diri.

Contoh lain:

“Saat ini saya sedang mengalami masalah keuangan.”

Berbeda dengan:

“Saya tidak akan pernah memiliki masa depan yang baik.”

Yang pertama menggambarkan keadaan sekarang.

Yang kedua merupakan prediksi terhadap masa depan.

Gunakan pertanyaan sederhana

Ketika pikiran negatif muncul, tanyakan:

Apa faktanya?

Apa yang sebenarnya saya takutkan?

Apakah ada kemungkinan lain?

Apa yang dapat saya lakukan sekarang?

Apakah saya sedang mengambil kesimpulan berdasarkan ketakutan?

Bukan berarti kita harus berpikir positif secara naif.

Kita tidak perlu mengatakan:

“Semuanya pasti baik-baik saja.”

Kita dapat mengatakan:

“Saya tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi saya dapat menjalani langkah berikutnya.”

Itulah bentuk harapan yang lebih realistis.

5. Jangan Menjalani Masa Sulit Sendirian

Salah satu kecenderungan manusia ketika mengalami masalah adalah menarik diri.

Kita merasa malu.

Kita takut dihakimi.

Kita tidak ingin merepotkan orang lain.

Akhirnya kita memendam semuanya sendirian.

Padahal manusia membutuhkan hubungan sosial.

Dukungan dari keluarga, sahabat, komunitas, pemimpin rohani, atau orang yang dipercaya dapat menjadi sumber kekuatan ketika seseorang berada dalam masa sulit.

Iman juga tidak dirancang untuk dijalani seorang diri.

Ada kalanya kita menjadi orang yang menguatkan.

Ada kalanya kita sendiri yang membutuhkan penguatan.

Jangan merasa bahwa meminta bantuan berarti lemah.

Justru kemampuan untuk berkata:

“Saya sedang tidak baik-baik saja dan saya membutuhkan bantuan.”

merupakan bentuk keberanian.

Pilih orang yang tepat

Tidak semua orang harus mengetahui seluruh masalah kita.

Carilah orang yang:

dapat dipercaya;

tidak mudah menghakimi;

mampu mendengarkan;

menghormati batas pribadi;

memberikan nasihat dengan bijaksana;

dan bersedia hadir ketika kita membutuhkan.

Terkadang kita tidak membutuhkan seseorang yang langsung memberikan solusi.

Kita hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersama kita dan berkata:

“Saya ada di sini.”

Kehadiran seperti itu dapat memiliki arti yang sangat besar.

6. Temukan Makna di Tengah Penderitaan

Salah satu pertanyaan terdalam ketika mengalami masa sulit adalah:

“Apa arti semua ini?”

Kita mungkin tidak selalu menemukan jawabannya.

Tetapi psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang kuat untuk menemukan makna dalam pengalaman hidupnya.

Ini tidak berarti kita harus mengatakan bahwa penderitaan itu baik.

Penderitaan tetap menyakitkan.

Kehilangan tetap menyakitkan.

Kegagalan tetap mengecewakan.

Namun kita dapat bertanya:

“Apa yang dapat saya pelajari dari pengalaman ini?”

“Siapa yang sedang saya bentuk menjadi diri saya?”

“Apa yang menjadi semakin penting bagi saya?”

“Bagaimana pengalaman ini dapat membuat saya lebih mampu memahami orang lain?”

Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kegagalan mungkin menjadi lebih rendah hati.

Seseorang yang pernah kehilangan mungkin menjadi lebih menghargai waktu bersama orang-orang yang dicintainya.

Seseorang yang pernah melewati masa sulit mungkin suatu hari dapat menjadi sumber penghiburan bagi orang lain yang sedang mengalami hal serupa.

Makna tidak selalu menghilangkan rasa sakit.

Tetapi makna dapat membuat seseorang memiliki alasan untuk terus berjalan.

Dalam perspektif iman

Bagi orang beriman, pencarian makna juga dapat menjadi kesempatan untuk memperdalam hubungan dengan Tuhan.

Pertanyaan kita mungkin berubah dari:

“Mengapa ini terjadi kepada saya?”

menjadi:

“Tuhan, bagaimana saya dapat tetap hidup setia di tengah keadaan ini?”

Kita mungkin tidak mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan.

Tetapi kita dapat menemukan cara untuk tetap hidup dengan tujuan.

7. Bangun Harapan yang Realistis, Bukan Harapan Palsu

Harapan sangat penting dalam menghadapi masa sulit.

Namun ada perbedaan antara harapan dan optimisme palsu.

Optimisme palsu berkata:

“Pasti semuanya akan persis seperti yang saya inginkan.”

Harapan berkata:

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi saya percaya masih ada kemungkinan untuk melangkah maju.”

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.

Harapan tidak membutuhkan kepastian tentang hasil.

Harapan membutuhkan keberanian untuk tetap bergerak meskipun hasil belum terlihat.

Misalnya seseorang sedang mencari pekerjaan.

Harapan bukan berarti berkata:

“Besok pasti saya mendapatkan pekerjaan.”

Tetapi:

“Saya belum tahu kapan pekerjaan itu datang. Namun saya akan terus mencari, memperbaiki kemampuan, berdoa, dan mengambil kesempatan yang tersedia.”

Seseorang yang sedang menghadapi masalah keluarga dapat berkata:

“Saya tidak tahu bagaimana hubungan ini akan berakhir. Tetapi saya akan melakukan bagian saya dengan kasih, kejujuran, dan kesabaran.”

Itulah harapan yang sehat.

Iman dan harapan berjalan bersama

Iman tidak selalu berarti mengetahui bagaimana cerita akan berakhir.

Iman berarti mempercayakan masa depan kepada Tuhan sambil tetap melakukan bagian kita hari ini.

Kita berdoa, tetapi juga bertindak.

Kita berharap, tetapi juga bekerja.

Kita percaya, tetapi juga mencari pertolongan ketika diperlukan.

Kita menyerahkan hasil kepada Tuhan, tetapi tidak menggunakan iman sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

Bagaimana Menerapkan 7 Prinsip Ini dalam Kehidupan Sehari-hari?

Tujuh prinsip di atas tidak harus diterapkan sekaligus.

Mulailah dengan langkah kecil.

Misalnya, buat rutinitas sederhana berikut:

Pagi

Bangun dan luangkan beberapa menit untuk berdoa.

Katakan kepada Tuhan:

“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi hari ini. Tetapi saya menyerahkan hari ini kepada-Mu. Berikan saya kekuatan untuk menjalani apa pun yang datang.”

Kemudian tentukan satu hal penting yang ingin dilakukan hari itu.

Siang

Ketika mulai merasa tertekan, berhenti sejenak.

Tarik napas perlahan.

Tanyakan:

“Apa yang berada dalam kendali saya sekarang?”

Kemudian lakukan satu tindakan kecil.

Sore

Hubungi seseorang yang dipercaya.

Tidak harus membicarakan masalah besar. Percakapan sederhana pun dapat membantu kita merasa terhubung.

Malam

Sebelum tidur, tuliskan tiga hal:

1. Apa yang saya syukuri hari ini?

2. Apa yang paling berat hari ini?

3. Apa yang ingin saya serahkan kepada Tuhan malam ini?

Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu kita memproses pengalaman sehari-hari dengan lebih sadar.

Ketika Iman Terasa Lemah

Ada satu hal penting yang perlu diingat:

Jangan mengukur kualitas iman hanya berdasarkan perasaan.

Ada masa ketika kita merasa dekat dengan Tuhan.

Ada masa ketika Tuhan terasa jauh.

Ada masa ketika doa terasa penuh keyakinan.

Ada masa ketika doa hanya berisi:

“Tuhan, tolong saya.”

Keduanya tetap merupakan bagian dari perjalanan iman.

Kita tidak harus selalu merasa kuat untuk tetap setia.

Bayangkan seseorang yang sedang berjalan dalam kegelapan.

Dia mungkin tidak dapat melihat tujuan akhir.

Tetapi dia masih dapat mengambil satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Dan satu langkah berikutnya.

Begitu pula kehidupan iman.

Kita tidak selalu mengetahui apa yang akan terjadi minggu depan, bulan depan, atau tahun depan.

Tetapi kita dapat memilih untuk setia hari ini.

Iman Bukan Berarti Tidak Pernah Jatuh

Sering kali kita membayangkan orang yang memiliki iman kuat sebagai seseorang yang tidak pernah takut, tidak pernah ragu, dan tidak pernah menangis.

Padahal, kekuatan bukan berarti tidak pernah mengalami kelemahan.

Kekuatan berarti kita tidak membiarkan kelemahan menjadi akhir dari perjalanan.

Kita dapat jatuh dan bangun kembali.

Kita dapat menangis dan kemudian berdoa.

Kita dapat merasa takut dan tetap melangkah.

Kita dapat tidak memahami keadaan dan tetap memilih untuk percaya.

Bahkan terkadang, iman yang paling kuat justru terlihat dalam kalimat yang sederhana:

“Saya tidak mengerti, tetapi saya akan tetap berjalan.”

Penutup: Tetap Berjalan, Satu Langkah demi Satu Langkah

Masa sulit tidak selalu dapat kita hindari.

Ada masalah yang dapat diselesaikan.

Ada masalah yang membutuhkan waktu.

Ada masalah yang mengubah hidup kita secara permanen.

Namun kita tidak harus menghadapi semuanya dengan kekuatan sendiri.

Dari perspektif psikologi, kita dapat membangun ketahanan melalui penerimaan emosi, pola pikir yang lebih sehat, dukungan sosial, kebiasaan yang baik, makna, dan harapan.

Dari perspektif iman, kita belajar untuk menyerahkan apa yang tidak dapat kita kendalikan, tetap berdoa, tetap berharap, dan tetap menjalani panggilan kita meskipun keadaan belum berubah.

Pada akhirnya, hidup dalam iman bukan berarti kita tidak pernah melewati lembah.

Hidup dalam iman berarti kita tetap berjalan ketika berada di lembah.

Mungkin hari ini kita belum melihat jalan keluar.

Mungkin doa kita belum mendapatkan jawaban yang kita harapkan.

Mungkin hati kita masih dipenuhi pertanyaan.

Tidak apa-apa.

Jangan tuntut diri untuk mengetahui seluruh perjalanan.

Ambillah satu langkah hari ini.

Berdoalah.

Tarik napas.

Cari pertolongan.

Lakukan bagian yang dapat dilakukan.

Serahkan bagian yang tidak dapat dikendalikan.

Dan teruslah berjalan.

Karena terkadang, iman bukan tentang melihat seluruh jalan di depan kita.

Iman adalah keberanian untuk mengambil langkah berikutnya, meskipun kita belum dapat melihat seluruh jalan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *