7 alasan perempuan lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah daripada laki-laki menurut psikologi

Di banyak keluarga, pekerjaan rumah tangga masih lebih sering dikerjakan oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah, mengurus anak, menyiapkan kebutuhan keluarga, hingga mengingat berbagai hal kecil yang berkaitan dengan rumah sering kali dianggap sebagai tanggung jawab perempuan.

Fenomena ini menarik untuk dilihat dari perspektif psikologi. Sebab, perbedaan tersebut tidak selalu muncul karena laki-laki “malas” atau perempuan “lebih rajin”. Ada proses panjang yang membentuk kebiasaan, persepsi, ekspektasi sosial, serta pembagian peran di dalam keluarga.

Psikologi melihat perilaku manusia sebagai hasil interaksi antara faktor individu dan lingkungan. Cara seseorang memandang pekerjaan rumah tangga dapat dipengaruhi oleh bagaimana ia dibesarkan, apa yang ia lihat dari orang tuanya, norma sosial yang berlaku, pengalaman hidup, hingga ekspektasi terhadap peran laki-laki dan perempuan.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (11/9), terdapat tujuh alasan yang dapat membantu menjelaskan mengapa perempuan masih cenderung mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah tangga.

1. Sejak kecil, perempuan lebih sering disosialisasikan untuk mengurus rumah

Salah satu penjelasan paling penting berasal dari proses yang disebut gender socialization atau sosialisasi gender.

Sejak kecil, anak belajar mengenai “perilaku yang dianggap pantas” bagi laki-laki dan perempuan melalui keluarga, sekolah, lingkungan sosial, media, dan budaya. Anak perempuan mungkin lebih sering diminta membantu memasak, mencuci piring, membersihkan rumah, menjaga adik, atau membantu pekerjaan domestik lainnya.

Sementara itu, anak laki-laki bisa lebih sering diarahkan pada aktivitas yang dianggap berkaitan dengan keberanian, kemandirian, pekerjaan di luar rumah, atau aktivitas fisik.

Masalahnya, pengulangan perilaku tersebut dapat membentuk kebiasaan.

Seorang perempuan yang sejak kecil terbiasa memperhatikan kondisi rumah akan memiliki pengalaman lebih banyak dalam pekerjaan domestik ketika dewasa. Ia mungkin mengetahui kapan stok makanan mulai habis, kapan pakaian perlu dicuci, atau bagaimana membersihkan bagian tertentu dari rumah tanpa perlu berpikir panjang.

Sebaliknya, laki-laki yang tidak mendapatkan latihan serupa mungkin tidak memiliki tingkat keterampilan dan kepekaan yang sama terhadap pekerjaan domestik.

Ini bukan berarti perempuan “secara alami” memiliki kemampuan mengurus rumah lebih baik. Sering kali, mereka lebih banyak berlatih sejak kecil.

Dengan kata lain, perbedaan perilaku orang dewasa dapat merupakan hasil dari proses pembelajaran yang berlangsung selama bertahun-tahun.

2. Norma gender membuat pekerjaan rumah dianggap sebagai “tanggung jawab perempuan”

Selain kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, masyarakat juga memiliki norma mengenai apa yang dianggap sebagai peran laki-laki dan perempuan.

Dalam banyak budaya, termasuk masyarakat yang masih memiliki pembagian peran gender tradisional, perempuan sering dikaitkan dengan peran sebagai pengasuh dan pengelola rumah. Laki-laki lebih sering dikaitkan dengan peran sebagai pencari nafkah.

Akibatnya, pekerjaan domestik dapat dianggap sebagai bagian dari identitas perempuan.

Ketika rumah bersih, makanan tersedia, anak terurus, dan kebutuhan keluarga terpenuhi, keberhasilan tersebut sering kali secara tidak langsung dikaitkan dengan perempuan.

Sebaliknya, ketika pekerjaan rumah tidak selesai, perempuan dapat lebih mudah merasa bersalah atau merasa bahwa dirinya gagal menjalankan peran.

Tekanan semacam ini dapat membuat perempuan mengambil lebih banyak tanggung jawab domestik, bahkan ketika sebenarnya mereka juga bekerja di luar rumah.

Psikologi sosial menjelaskan bahwa manusia cenderung menyesuaikan perilakunya dengan norma yang berlaku di lingkungan. Ketika seseorang terus-menerus menerima pesan bahwa suatu tugas merupakan “tanggung jawabnya”, ia dapat menginternalisasi pesan tersebut.

Pada akhirnya, sesuatu yang awalnya merupakan tuntutan sosial dapat terasa seperti pilihan pribadi.

3. Perempuan sering memikul “mental load” atau beban mental keluarga

Pekerjaan rumah tangga bukan hanya aktivitas yang terlihat.

Ada pula pekerjaan mental yang tidak selalu tampak tetapi membutuhkan perhatian terus-menerus.

Misalnya:

mengingat jadwal dokter anak,

mengetahui kapan harus membeli bahan makanan,

mengingat kebutuhan sekolah anak,

memperhatikan persediaan kebutuhan rumah,

merencanakan menu,

mengingat ulang tahun anggota keluarga,

mengatur jadwal kegiatan keluarga,

memikirkan pakaian apa yang harus dicuci,

mengetahui barang apa yang hampir habis,

atau memikirkan berbagai kebutuhan rumah sebelum orang lain menyadarinya.

Semua itu dapat disebut sebagai mental load, yaitu beban kognitif untuk mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan mengoordinasikan berbagai kebutuhan kehidupan sehari-hari.

Menariknya, seseorang bisa terlihat tidak sedang mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi sebenarnya sedang memikirkan pekerjaan rumah.

Misalnya, seorang ibu sedang duduk bekerja menggunakan laptop. Secara fisik ia tidak sedang membersihkan rumah. Namun pikirannya mungkin sedang memikirkan bahwa beras hampir habis, anak membutuhkan perlengkapan sekolah, cucian belum dilipat, dan makan malam harus disiapkan.

Beban seperti ini sulit terlihat karena tidak selalu menghasilkan aktivitas fisik yang jelas.

Ketika perempuan lebih sering menjadi pihak yang bertanggung jawab untuk mengingat dan mengatur kebutuhan rumah, pekerjaan domestik yang mereka lakukan sebenarnya bisa jauh lebih besar daripada yang terlihat secara kasat mata.

4. Standar kebersihan dan pengasuhan dapat berbeda antara laki-laki dan perempuan

Alasan lainnya berkaitan dengan standar pribadi dan persepsi terhadap kebutuhan rumah tangga.

Dua orang dapat melihat kondisi rumah yang sama tetapi memberikan penilaian berbeda.

Seseorang mungkin melihat ruang tamu dan berpikir, “Masih cukup bersih.”

Orang lain mungkin melihat kondisi yang sama dan berpikir, “Ini sudah waktunya dibersihkan.”

Perbedaan persepsi tersebut dapat dipengaruhi pengalaman masa kecil, kebiasaan keluarga, nilai pribadi, dan ekspektasi sosial.

Dalam konteks gender, perempuan sering mendapatkan tekanan sosial yang lebih besar untuk menjaga rumah, penampilan anak, dan kondisi keluarga agar terlihat baik.

Akibatnya, mereka mungkin mengembangkan standar yang lebih tinggi atau setidaknya merasa memiliki tanggung jawab lebih besar untuk memenuhi standar tersebut.

Ketika seseorang merasa bertanggung jawab terhadap hasil akhir, ia juga lebih mungkin mengambil tindakan.

Misalnya, jika seorang perempuan berpikir bahwa rumah harus bersih sebelum tamu datang, ia mungkin langsung membersihkannya. Sementara pasangan yang tidak merasa memiliki tanggung jawab yang sama mungkin tidak melihat kebutuhan untuk melakukan hal tersebut.

Di sinilah muncul salah satu persoalan dalam pembagian pekerjaan rumah tangga: orang yang paling peduli terhadap hasil akhirnya sering menjadi orang yang akhirnya mengerjakan tugas tersebut.

5. Perempuan sering mendapat “hukuman sosial” lebih besar ketika pekerjaan domestik tidak dilakukan

Psikologi juga dapat melihat fenomena ini melalui konsep social expectations atau ekspektasi sosial.

Laki-laki dan perempuan tidak selalu mendapatkan penilaian sosial yang sama ketika melakukan atau tidak melakukan pekerjaan domestik.

Seorang laki-laki yang membantu memasak atau membersihkan rumah terkadang justru mendapatkan pujian karena dianggap “mau membantu”.

Sementara itu, perempuan yang melakukan pekerjaan yang sama sering dianggap sedang menjalankan kewajiban normal.

Perbedaan cara masyarakat menilai perilaku ini penting.

Jika pekerjaan rumah dipandang sebagai “bantuan” ketika dilakukan laki-laki tetapi sebagai “kewajiban” ketika dilakukan perempuan, maka pembagian tanggung jawab menjadi tidak sepenuhnya setara.

Bahasa yang digunakan sehari-hari bahkan dapat memperkuat pola tersebut.

Misalnya, seorang laki-laki mengatakan, “Saya membantu istri mengurus anak.”

Kalimat tersebut secara tidak langsung menunjukkan bahwa tanggung jawab utama mengurus anak berada pada istri, sementara laki-laki berada pada posisi sebagai pihak yang membantu.

Padahal, jika anak adalah tanggung jawab bersama, mengurus anak seharusnya bukan sekadar “membantu pasangan”, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama sebagai orang tua.

Cara berpikir semacam ini mungkin terlihat kecil, tetapi bahasa dapat mencerminkan sekaligus memperkuat norma sosial.

6. Kebiasaan membuat seseorang menjadi “default parent” atau pengelola utama rumah

Dalam banyak keluarga, pada akhirnya ada satu orang yang menjadi pihak yang paling mengetahui berbagai urusan rumah.

Orang tersebut biasanya menjadi tempat bertanya:

“Baju saya di mana?”

“Besok anak sekolah jam berapa?”

“Sabun masih ada?”

“Kita harus beli apa?”

“Tagihan ini kapan jatuh tempo?”

Sering kali, orang yang paling banyak menerima pertanyaan seperti ini adalah perempuan.

Lama-kelamaan, terbentuk pola di mana satu orang menjadi pusat informasi keluarga.

Masalahnya, ketika seseorang terus menjadi pihak yang paling mengetahui segala sesuatu, anggota keluarga lain bisa semakin bergantung kepadanya.

Contohnya sederhana.

Jika seorang suami selalu bertanya kepada istrinya di mana pakaian tertentu disimpan, ia mungkin tidak pernah benar-benar belajar sistem penyimpanan pakaian tersebut.

Jika seorang anak selalu bertanya kepada ibunya mengenai jadwal sekolah, ibu tersebut menjadi pengingat utama keluarga.

Akibatnya, beban domestik tidak hanya berupa pekerjaan fisik, tetapi juga tanggung jawab untuk menjadi “manajer rumah”.

Pola tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun dan akhirnya terasa normal bagi semua orang.

Padahal, dari sudut pandang psikologi perilaku, kebiasaan yang terus mendapatkan penguatan akan cenderung dipertahankan.

Jika satu orang selalu mengambil tanggung jawab, orang lain dapat menjadi semakin pasif bukan selalu karena tidak peduli, tetapi karena sistem keluarga sudah terbentuk seperti itu.

7. Pembagian pekerjaan rumah sering mengikuti pembagian peran ekonomi

Alasan terakhir berkaitan dengan pekerjaan dan kondisi ekonomi keluarga.

Secara historis, banyak keluarga menggunakan pembagian peran tradisional: laki-laki bekerja mencari penghasilan, sedangkan perempuan mengurus rumah.

Dalam keluarga dengan pola tersebut, pekerjaan rumah memang lebih mungkin dilakukan oleh pihak yang lebih banyak berada di rumah.

Namun kondisi masyarakat modern menjadi lebih kompleks.

Banyak perempuan sekarang juga bekerja penuh waktu, membangun karier, menjalankan bisnis, atau memiliki tanggung jawab profesional yang sama besar dengan pasangan.

Ketika perempuan sudah bekerja di luar rumah tetapi tetap menjadi pihak yang mengerjakan sebagian besar pekerjaan domestik, muncul situasi yang sering disebut sebagai double burden atau beban ganda.

Seseorang menjalankan tanggung jawab profesional sekaligus memikul sebagian besar pekerjaan rumah dan pengasuhan.

Di sinilah pembagian pekerjaan rumah tangga menjadi persoalan psikologis sekaligus sosial.

Jika jam kerja laki-laki dan perempuan relatif sama, tetapi pekerjaan domestik tetap sebagian besar dilakukan perempuan, maka masalahnya tidak lagi dapat dijelaskan hanya dengan alasan “perempuan lebih banyak berada di rumah”.

Pembagian tanggung jawab perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

Apakah Ini Berarti Laki-Laki Tidak Peduli terhadap Pekerjaan Rumah?

Tidak.

Penting untuk menghindari kesimpulan bahwa semua laki-laki tidak peduli terhadap pekerjaan rumah atau semua perempuan otomatis lebih rajin.

Perbedaan dalam pembagian pekerjaan domestik merupakan pola sosial yang kompleks.

Ada laki-laki yang sangat aktif mengurus rumah, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengasuh anak. Ada pula perempuan yang tidak banyak melakukan pekerjaan domestik.

Karena itu, pembahasan psikologi sebaiknya tidak berubah menjadi stereotip baru.

Yang lebih penting adalah memahami mengapa pola tertentu dapat muncul dan bertahan dalam sebuah hubungan atau keluarga.

Faktor seperti jam kerja, pendapatan, kesehatan, jumlah anak, keterampilan, preferensi pribadi, budaya keluarga, serta kesepakatan pasangan semuanya dapat berpengaruh.

Mengapa Pembagian yang Tidak Seimbang Bisa Menjadi Masalah?

Ketimpangan pekerjaan rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan jumlah waktu yang digunakan.

Masalah dapat muncul ketika salah satu pihak merasa bahwa usahanya tidak dihargai atau tanggung jawabnya dianggap sebagai sesuatu yang otomatis.

Perasaan seperti:

“Kenapa saya harus selalu mengingat semuanya?”

“Kenapa kalau saya tidak mengerjakan, tidak ada yang bergerak?”

atau

“Kenapa pasangan menganggap mengurus rumah sebagai tugas saya?”

dapat menimbulkan frustrasi.

Dalam jangka panjang, ketidakpuasan terhadap pembagian pekerjaan domestik dapat memengaruhi kualitas hubungan.

Karena itu, pembagian pekerjaan rumah yang sehat bukan sekadar menghitung siapa mencuci piring dan siapa menyapu.

Pasangan juga perlu membicarakan siapa yang bertanggung jawab untuk memastikan pekerjaan tersebut selesai.

Misalnya, ada perbedaan antara:

“Aku akan membantu kalau kamu memintaku.”

dan:

“Aku bertanggung jawab atas pekerjaan mencuci piring dan memastikan dapur kembali rapi.”

Pernyataan kedua menunjukkan kepemilikan tanggung jawab yang lebih jelas.

Bagaimana Membuat Pembagian Pekerjaan Rumah Lebih Adil?

Solusinya bukan selalu membagi semua tugas tepat 50:50.

Keadilan tidak selalu berarti setiap orang mengerjakan jumlah pekerjaan yang persis sama. Yang lebih penting adalah mempertimbangkan keseluruhan beban masing-masing orang.

Pasangan dapat mulai dengan membuat daftar seluruh pekerjaan rumah, termasuk pekerjaan yang tidak terlihat.

Misalnya:

Pekerjaan fisik:

memasak,

mencuci piring,

mencuci pakaian,

menyapu,

mengepel,

membersihkan kamar mandi,

berbelanja.

Pekerjaan mental:

membuat daftar belanja,

merencanakan makanan,

mengingat jadwal anak,

mengatur pembayaran,

memikirkan kebutuhan keluarga,

membuat keputusan mengenai berbagai urusan rumah.

Setelah semuanya terlihat, pembagian tanggung jawab dapat dilakukan berdasarkan waktu, kemampuan, jadwal kerja, dan preferensi masing-masing.

Yang juga penting adalah menghindari pola “satu orang menjadi manajer, satu orang menjadi asisten”.

Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak idealnya memiliki rasa memiliki terhadap rumah dan keluarga.

Kesimpulan

Perempuan masih sering mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah tangga bukan semata-mata karena perempuan secara biologis lebih cocok melakukan pekerjaan domestik.

Dari perspektif psikologi, fenomena tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai proses, mulai dari sosialisasi gender sejak kecil, norma masyarakat, pembentukan kebiasaan, perbedaan ekspektasi, tekanan sosial, mental load, hingga pembagian peran ekonomi dalam keluarga.

Tujuh faktor tersebut saling berhubungan.

Seorang perempuan yang sejak kecil diajarkan untuk memperhatikan kebutuhan rumah mungkin tumbuh menjadi orang yang secara otomatis mengambil tanggung jawab domestik. Lingkungan kemudian memperkuat perilaku tersebut dengan memberikan ekspektasi bahwa perempuan memang seharusnya mengurus rumah. Setelah menikah dan memiliki anak, kebiasaan tersebut dapat semakin menguat karena ia menjadi orang yang paling mengetahui berbagai kebutuhan keluarga.

Sementara itu, laki-laki yang sejak kecil kurang dilatih untuk mengerjakan pekerjaan domestik mungkin tumbuh tanpa memiliki tingkat keterampilan atau rasa tanggung jawab yang sama terhadap pekerjaan tersebut.

Namun pola tersebut bukan sesuatu yang tidak dapat diubah.

Peran gender dipelajari, dan banyak perilaku yang dipelajari juga dapat diubah.

Keluarga dapat mengajarkan anak laki-laki maupun perempuan untuk memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak, dan bertanggung jawab terhadap kebutuhan bersama.

Pada akhirnya, pekerjaan rumah tangga bukan semata-mata persoalan “pekerjaan perempuan” atau “pekerjaan laki-laki”. Rumah adalah ruang bersama, sehingga tanggung jawab untuk merawatnya idealnya juga menjadi tanggung jawab bersama.

Pembagian yang lebih adil bukan hanya membuat pekerjaan menjadi lebih ringan. Dalam banyak hubungan, pembagian tanggung jawab yang jelas juga dapat membantu menciptakan rasa saling menghargai, mengurangi konflik, dan membuat kedua pasangan merasa bahwa usaha mereka diakui.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *