CELTI 2026: UIN Saizu Soroti Dekolonisasi Bahasa Inggris di Era AI

Program Studi Tadris Bahasa Inggris (TBI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat atmosfer akademik internasional melalui penyelenggaraan The 6th Conference on English Language Teaching (CELTI) 2026.

Konferensi internasional yang berlangsung secara daring pada Kamis, 18 Juni 2026 tersebut mengangkat tema “Decolonizing English in the Age of Artificial Intelligence: Rethinking Language, Literature, and Pedagogy”.

Tema ini menyoroti pentingnya membangun kembali praktik pembelajaran bahasa Inggris yang lebih kritis, reflektif, dan relevan dengan konteks lokal di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

CELTI 2026 menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara seperti Indonesia, Rusia, Australia, dan Inggris. Forum ilmiah ini menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai masa depan English Language Teaching (ELT), terutama dalam menjawab tantangan transformasi digital dan isu dekolonisasi pendidikan bahasa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembukaan yang dihadiri pimpinan fakultas, dosen, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi dan institusi pendidikan. Pada sesi pleno, peserta mendapatkan wawasan dari keynote speaker Dr. Svetlana P. Khoroshilova dari Novosibirsk State Pedagogical University, Rusia.

Dalam presentasinya yang berjudul “AI Trends and Skills in 2026: How They Empower Us to Rethink Pedagogy to Decolonize the English Language Classroom”, ia menjelaskan bagaimana perkembangan AI tidak hanya mengubah metode pembelajaran, tetapi juga mendorong pendidik untuk mengevaluasi kembali paradigma lama yang selama ini mendominasi pengajaran bahasa Inggris.

Menurutnya, teknologi dapat menjadi sarana untuk menciptakan ruang belajar yang lebih inklusif, kritis, dan mampu mengakomodasi berbagai perspektif budaya. Pembicara berikutnya, Endang Sartika dari The University of Queensland, Australia, mengangkat topik “Whose Stories Do We Teach? Rethinking English and Literature Education in Indonesia”.

Melalui paparannya, Endang mengajak para pendidik untuk lebih selektif dan kritis dalam menentukan materi ajar bahasa dan sastra Inggris. Ia menekankan pentingnya menghadirkan narasi yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia agar proses pembelajaran menjadi lebih representatif dan bermakna bagi peserta didik.

Sesi pleno juga menghadirkan Dr. Agus Husein As Sabiq, Dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang memaparkan kajian bertajuk “Decolonising English Language Teaching or Rebranding It? A Critical Systematic Review of Policies, Pedagogies, and Identities”.

Dalam presentasinya, ia mengajak peserta untuk melihat secara kritis perkembangan wacana dekolonisasi ELT. Menurutnya, penting untuk memastikan bahwa upaya dekolonisasi benar-benar menghadirkan perubahan substantif dalam kebijakan, pedagogi, dan identitas pembelajaran, bukan sekadar pergantian istilah tanpa dampak nyata.

Sementara itu, Henny Septia Utami dari Queen’s University Belfast, Inggris, membahas topik “Collocation, Learner Language, and an Effort to Design Specialised EFL Teaching Materials”.

Dia menjelaskan bahwa analisis kolokasi dan bahasa pembelajar dapat membantu pengembangan bahan ajar English as a Foreign Language (EFL) yang lebih spesifik, aplikatif, dan sesuai kebutuhan mahasiswa. Setelah sesi pleno berakhir, konferensi dilanjutkan dengan parallel sessions yang menghadirkan puluhan presenter dari berbagai universitas di Indonesia.

Beragam hasil penelitian dipresentasikan dalam forum tersebut, mulai dari pemanfaatan Artificial Intelligence dalam pembelajaran bahasa Inggris, dekolonisasi ELT, inovasi asesmen pendidikan, pengembangan bahan ajar, hingga integrasi teknologi digital dalam pembelajaran berbasis konteks lokal dan global.

Sesi ini menjadi ruang strategis bagi para akademisi untuk bertukar ide, membangun kolaborasi riset, serta memperluas jejaring ilmiah lintas institusi. Dekan FTIK UIN Saizu Purwokerto, Prof. Fauzi mengapresiasi terselenggaranya CELTI 2026.

Ia menegaskan bahwa konferensi ini merupakan bagian dari upaya fakultas dalam memperkuat internasionalisasi akademik sekaligus meningkatkan kualitas penelitian dan budaya publikasi ilmiah di lingkungan kampus.

Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan tantangan pendidikan masa kini, terutama dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi dunia pendidikan dan pembelajaran bahasa.

Ketua Program Studi Tadris Bahasa Inggris, Desi Wijayanti Ma’rufah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, narasumber, dan peserta yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.

Ia menilai antusiasme peserta serta kerja keras panitia menjadi faktor penting yang menjadikan CELTI 2026 sebagai forum akademik internasional yang produktif dan inspiratif.

Selain itu, Desi berharap penyelenggaraan CELTI pada tahun 2027 dapat melibatkan lebih banyak presenter dari berbagai negara sehingga jejaring akademik internasional semakin luas dan dampak ilmiahnya semakin besar.

Melalui penyelenggaraan CELTI 2026, Program Studi Tadris Bahasa Inggris UIN Saizu Purwokerto berharap konferensi ini terus menjadi forum akademik berkelanjutan yang mampu memperkuat kolaborasi internasional sekaligus melahirkan inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Di tengah perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, pendekatan pembelajaran yang reflektif, adaptif, dan berakar pada konteks lokal dinilai menjadi kunci dalam membangun pendidikan bahasa yang relevan dengan kebutuhan global. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *