Gelombang protes dan perdebatan atas keputusan kontroversial wasit Joao Pinheiro yang mengusir penyerang Swiss, Breel Embolo, dari lapangan hijau kala kontra Argentina di perempat final Piala Dunia 2026 sempat ramai, terlebih selepas laga tersebut.
Keputusan sang pengadil lapangan yang membatalkan hukuman kartu kuning untuk gelandang Argentina, Leandro Paredes, dan mengaliskannya menjadi kartu kuning kedua bagi Embolo usai meninjau
Video Assistant Referee
, dinilai jadi titik balik runtuhnya perjuangan skuad Swiss.
Padahal, sebelum insiden pada menit ke-72′ tersebut, tim asuhan Murat Yakin tengah memegang kendali permainan berkat gol penyama kedudukan 1-1 yang dicetak oleh Dan Ndoye pada menit ke-67′.
Kehilangan satu pemain memaksa
Schweizer Nati
bermain pincang, hingga
Albiceleste
sukses memanfaatkan keunggulan jumlah personel untuk mengunci kemenangan 3-1 lewat babak perpanjangan waktu atau
extra time
.
Regulasi Baru FIFA Jadi Sorotan
Keputusan krusial yang diambil wasit Pinheiro ternyata berakar dari implementasi perluasan protokol
mistaken identity
atau kesalahan identifikasi pemain yang mulai diuji coba FIFA pada Piala Dunia 2026.
Sistem kerja regulasi baru ini menitikberatkan pada koreksi target hukuman, di mana VAR berwenang penuh mengintervensi wasit jika terjadi kesalahan pemberian kartu kepada pemain, sehingga sanksi dapat dialihkan kepada pelaku pelanggaran yang sah.
Melalui analisis bukti visual yang mendalam, akurasi keputusan dapat ditingkatkan, seperti pada kasus Embolo, dalam peninjauan ulang rekaman memperlihatkan Paredes sama sekali tidak melakukan kontak fisik berbahaya.
Justru sebaliknya, bukti video tersebut menangkap momen saat penyerang Swiss tersebut sengaja menjatuhkan diri sebelum terjadinya benturan, sehingga ia divonis menerima sanksi akibat tindakan
diving
.
Lantaran penyerang asal klub AS Monaco tersebut sudah mengantongi kartu kuning pertama, hukuman akibat
diving
ini otomatis berubah menjadi kartu kuning kedua yang berujung pengusiran.
Insiden ini pun langsung dicap sebagai salah satu implementasi regulasi
Video Assistant Referee
paling kontroversial sepanjang sejarah turnamen.
Kubu
Schweizer Nati
Murka
Tim Swiss tidak dapat membendung rasa kecewa mereka atas hasil evaluasi VAR tersebut. Murat Yakin menilai momentum jatuhnya Embolo bukanlah sesuatu yang krusial hingga harus diganjar kartu peringatan.
“Sama sekali tidak ada indikasi kuat yang mengharuskan wasit mengeluarkan kartu kuning kedua. Situasi di area tengah itu sama sekali tidak berbahaya, dan laga seharusnya dibiarkan terus berjalan,” katanya protes selepas pertandingan kemarin.
Suara miring juga datang dari para pilar lapangan tengah Swiss. Remo Freuler secara terbuka mendesak pihak FIFA memberikan klarifikasi transparan mengenai tata cara penerapan aturan baru ini.
Sementara itu, kapten tim Granit Xhaka melontarkan kritik pedas dengan menyebut keputusan sang wasit telah ‘membunuh pertandingan’ di saat timnya sedang berada di atas angin. Embolo sendiri tertangkap kamera meninggalkan lapangan dengan derai air mata.
Suara Warganet di Medsos Terbelah
Di
platform
digital, opini
netizen
terbelah menjadi dua kubu saling adu argumen. Sebagian pencinta sepak bola menilai tindakan wasit sudah sangat objektif dan sesuai aturan, mengingat Embolo dianggap melakukan
diving
.
Di sisi lain, tidak sedikit warganet yang mengecam intervensi
Video Assistant Referee
yang dinilai terlalu jauh mencampuri dinamika permainan di lapangan. Bahkan, ada yang menganggap merugikan dan memunculkan teori konspirasi bias wasit terhadap tim-tim besar tertentu.***